agamaku dan Tuhanku.

Alfin adalah sesosok remaja biasa, dan standar remaja umumnya. Namun, ada satu pertanyaan yang selalu dia pikirkan.
"Apa tujuan hidupku dalam beribadah kepada Tuhan?"
Ia lahir dalam keluarga yang beragama Islam dan bisa dibilang sangat religius.

Mencari sebuah kebenaran adalah tujuannya, menilik sisi agama yang satu dengan yang lainnya. Bercampur antara agama satu dan agama lainnya. Namun, belum juga dia menemukan ketenangan.

Sisi lain dari hidupnya adalah untuk menemukan jalan hidup yang memang ingin dia capai yaitu adalah 'bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya' 

Ia belajar berbagai agama, mulai dari agama yang di turunkan oleh keluarganya yaitu Islam, lalu belajar agama Katolik, Hindu, dan Budha. Ia sadar, "agama bukanlah sebuah bentuk tuntutan keluarga, tapi agama adalah pilihan setiap individu".

Didalam agama katolik ia menemukan tentang pemahaman kasih yang dititik beratkan pada ajarannya, dari Hindu ia belajar bagaimana berkata jujur, dan dari Budha ia belajar tentang mindfluness. Namun, ia juga tetap mempelajari agama Islam yang telah menjadi role model nya dan juga telah di ajarkan oleh keluarganya.

Alfin bimbang akan dirinya "bagaimana diriku ini?". Mungkin jiwa sesosok remaja yang masih labil saat ingin menggali tentang jati diri pun turut bergelut dalam pikirannya.

Ia percaya semua agama itu menuju pada sebuah kebaikan, namun untuk percaya pada satu Tuhan? Apakah hanya Islam yang mengajarkan itu, ia melihat bagaimana teman-temannya menjalankan sholat 5 waktu dengan amat senang dan bahagia, berpuasa lalu berbuka bersama, seakan menunjukkan 'inilah manusia, bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk saling berkasih sayang'.

Ia masih tetap bergelut pada kelabilannya, pada akhirnya ia di tempatkan pada sebuah pesantren yang memiliki ribuan santri. Lantas ia bergaul dengan teman baru, lingkungan baru, dan kehidupan baru. Ia tak habis pikir bagaimana bisa satu kitab Al-Qur'an setebal itu bisa di hafal bahkan pas sekali dengan tanda bacanya. Ia terkagum-kagum, mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan oleh teman-teman santrinya.

"Oh Allah, inikah agama yang engkau benarkan" Alfin tersenyum, bagaimana bisa dia menghafal ribuan hadist serta ribuan ayat Qur'an dengan begitu tepat?

Alfin mulai mencoba untuk menghafal Al-Qur'an dan belajar dari hal yang mendasar tentang Al-Qur'an. Berbulan-bulan ia belajar menghafal Qur'an hingga pada tahun ketiga nya di pesantren itu, nampaklah hatinya merasakan ketenangan, memberikan kebahagiaan tersendiri dalam dirinya, di gagalnya 30 jus Al-Qur'an, bahkan hampir seribu hadist di hafalnya. 

Muncullah pertanyaan baru 'apakah aku bisa mengamalkan ini?' belajar mengerti arti dari kehidupan menuntun pada sifat para Ambiya. 

"Ya Allah, setelah aku tahu, diriku ini begitu labil, mencari tahu tentang suatu kebenaran, namun aku tetap kembali pada-Mu" 

Sekali ia mulai terjun di masyarakat, mengajari anak-anak kecil membaca Al-Qur'an, hingga ia menemukan ketenangan dalam dirinya.

"Apaka ia bahagia?' Tentu.


"Tapi, apakah cukup untuk memenuhi materi kehidupannya?"


Insyaallah masih lanjut ...


Ib: Narendra Pawaka
Writer: Khoirun Nasihin
Editor: Kinanti